Memahami Gempa Bumi Di Jawa Timur

September 14th, 2018 No comments

Oleh : Adi Susilo

Setelah terjadi dua gempa besar berturut-turut yang merusak Sumatera Barat dan Jambi, masyarakat disibukkan oleh adanya isu – isu gempa lagi. Bahkan, isu-isu itu mengarah pada waktu dan posisi terjadinya gempa. Seperti telah banyak diulas, sampai saat ini belum ada ilmu yang mengatakan atay memprediksi waktu pasti terjadinya gempa. Apalagi posisi pasti, itu masih jauh dari ilmu yang dimiliki manusia saat ini.

Masyarakat Jatim beberapa hari terakhir sering menerima oesan singkat (SMS) ataupun pemberitaan lain yang mengatakan akan terjadi gempa pada jam tertentu. Beberapa sekolah bahkan memulangkan murid-muridnya dan banyak orang tua berjaga sampai larut malam menanti datangnya gempa. Pertanyaan di kantor BMKG yang mencatat rekaman gempa terus terjadi, memastikan apakah memang benar akan terjadi gempa.

Secara umum gempa bumi diakibatkan oleh dua sumber, yaitu vulkanik dan tektonik. Gempa bumi vulkanik diakibatkan letusan gunung api, sedangkan sumber gempa vulkanik juga ada dua macam: shock dan tremor. Shock merupakan sumber gempa akibat letusan, yang bias berasal dari dalam dapur magma atau terlontarnya magma keluar dari tubuh gunung. Sumber seperti ini bias dikatakan sumber berbentuk titik.

Tremor adalah suatu getaran yang dicatat alat perekam (seismometer) di tubuh gunung karena proses merambatnya magma ke permukaan yang menggetarkan dinding-dinding saluran magma (conduit). Sumber semacam ini dikatakan sumber berupa garis. Gempa bumi vulkanik akan relative berbahaya terhadap masyarakat di sekitar gunung api, tetapi tidak untuk yang jauh.

Gempa bumi akibat proses tektonik juga dibedakan oleh dua sumber, pertama jalur penunjaman (subduction zone) yang berada sekitar 200 kilometer di sebelah selatan pulau jawa untuk daerah jawa. Gempa bumi akibat proses ini kebanyakan terjadi di laut sehingga bias tidaknya dirasakan manusia di daratan dan tergantung pada besar atau kecilnya energy yang dikeluarkan. Sumber kedua, patahan lokal dan regional yang bias terjadi dilaut dan di darat. Gempa bumi akibat patahan inilah yang justru berbahaya. Patahan yang tadinya tampak tidak aktif tiba-tiba bias aktif atau bisa juga sebetulnya patahan tersebut aktif tetapi kita tidak merasakannya karena pola pergeserannya dalam orde millimeter atau bahkan micrometer setiap tahun.

Memiliki Peta

Sejarah kegempaan yang tercatat dan pernah terjadi di Jatim di mulai oleh sebuah gempa besar yang terjadi pada 22 Maret 1836 di sekitar mojokerto dan Jombang, yang mengakibatkan kerusakan banyak bangunan dan korban jiwa. Gempa ini berkekuatan VII-VIII skala Mercalli (SM). Skala Mercalli adalah skala lain dari gempa yang di dasarkan kekuatan goyangan pada barang-barang di dalam rumah, yang mempunyai skala I sampai XII. Skala I, tidak ada orang yang merasakannya, skala VI, orang sudah kesulitan untuk berjalan dan barang-barang di dinding mulai berjatuhan. Skala XII, semua objek hancur.

Selanjutnya pada 15 Agustus 1896 terjadi gempa VII SM yang dirasakan di daerah Wlingi dan pada tanggal 20 Agustus 1896 gempa VII SM dirasakan di Tulungagung. Kedua gempa menimbulkan korban yang cukup banyak. Pada 31 Agustus 1915 terjadi gempa VIII SM di Madiun dengan korban bangunan dan manusia cukup banyak. Masih banyak gempa terjadi setelah itu.

Pada situasi posisi gempa telah diketahui secara lebih pasti, yaitu mulai tahun 1937, tercatat bahwa ada puluhan gempa besar telah terjadi di Jatim dengan skala di atas VI SM. Jatim bagian selatan, Banyuwangi , Pasuruan, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo, tercatat beberapa kali mengalami gempa besar. Di Jatim bagian utara, antara lin Gresik, Sedayu, dan Mojokerto, juga pernah terjadi gempa bumi besar walaupun frekuensinya kecil. Gempa bumi berskala lebih kecil terjadi ratusan kali di seluruh Jatim mulai periode 1950-an, termasuk di Madura, Selat Madura, dan wilayah tapal kuda.

Seperti telah juga sering di sosialisasikan, gempa bumi, khususnya tektonik, diakibatkan oleh terlepasnya energy dari patahan di suatu daerah. Kita justru seharusnya merasa senang apabila sering merasakan adanya gempa-gempa kecil, yang berarti tenaga akibat gesekan pada patahan tersebut telah di lepaskan. Hal yang justru patut di khawatirkan adalah kurang atau tidak adanya gempa-gempa kecil do daerah yang semestinya dan biasanya ada gempa. Ini berarti terjadi tumpukan energy yang lambat laun bertambah besar. Apabila tumpukan energy itu tidak bisa ditahan lagi oleh elastisitas batuan di daerah yang terdapat patahan tersebut, gempa bumi besar tinggal menunggu waktu.

Dari tulisan penulis yang dimuat di kompas 25 Juli 2006, sifat periodisitas dari gempa bumi di Jatim antara 20 tahun sampai 30 tahun. Tercatat pada 19 Pebruari 1967 terjadi gempa besar di sekitar dampit, Malang, berkekuatan VIII sampai IX Sm dan 6,2 Skala Richter (setara dengan 4 juta ton TNT, senjata nuklir kecil hanyalan setara dengan 1.000 ton TNT) dengan korban bangunan dan jiwa cukup banyak. Pada 28 september 1998 juga terjadi gempa cukup besar di daerah Malang dan Blitar selatan. Maka, masyarakat Jatim memang patut untuk waspada.

Terdapat suatu metode yang sekiranya perlu dilakukan pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi ataupun akademisi yang memahami masalah ini. Pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota sudah waktunya meneliti dan memiliki peta micro zonation, khususnya patahan di suatu daerah yang kemungkinan akan digunakan sebagai tempat tinggal dan prasarana lain. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi resiko bencana yang mungkin akan terjadi, baik akibat gempa bumi ataupun longsor. Dengan telah diketahuinya alur patahan tersebut, pemerintah bisa mengeluarkan dan menolak izin untuk suatu aktivitas. Dengan telah adanya rambu-rambu tersebut, tanggung jawab pemerintah semakin berkurang.

 

Adi Susilo

Koordinator Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:

Kapan Gempa Tsunami di Jawa timur?

August 26th, 2018 No comments

Oleh : Adi Susilo, Ph.D

Setalah terjadi gempa dan tsunami di Aceh, Yogyakarta, Pangandaran, serta Gorontalo, masyarakat bertanya-tanya mengapa tidak didahului peringatan dari pemerintah? Ke mana para ahli gempa? Masyarakat awam juga bertanya-tanya, akankah gempa ataupun tsunami merembet ke Jawa Timur? Bila ya, kapan datangnya? Apa yang harus dipersiapkan?

Sebagian besar dari masyarakat kini sudah mulai paham tentang teori tektonik lempeng, yaitu pergerakan lempeng Eurasia. Hal ini juga menyenangkan karena gejala ilmiah gempa juga sudah mulai bisa dipahami oleh masyarakat umum, walaupun tidak sedikit yang mengaitkan dengan metafisika.

Peristiwa gempa yang diikuti tsunami di Jawa Timur yang masih segar di benak kita adalah yang terjadi di Banyuwangi (Rajekwesi), 3 Juni 1994. Gempa berkekuataan 7,6 skala richter (SR) menurut USGS tersebut mengakibatkan tsunami yang menghancurkan banyak rumah, 121 orang meninggal, serta 236 orang luka-luka.

Setelah tsunami yang terjadi di Banyuwangi ini, tidak ada tsunami akibat gempa bumi di laut yang pusatnya di sebelah selatan Jawa Timur. Namun, gempa bumi yang baru terjadi di sebelah selatan Bandung pada tanggal 17 Juli lalu juga dirasakan oleh penduduk yang tinggal dipantai Jawa timur.

Pertanyaan mereka, akankah Jawa Timur mendapatkan giliran selanjutnya?

Kumpulkan 13.000 data

Penulis akan menyajikan data-data yang diper oleh dari BMKG. Data ini adalah data gempa bumi yang didapat mulai tahun 1964 sampai 2006. Lebih dari 13.000 data yang penulis dapatkan, selanjutnya hanya dipilih untuk daerah Jawa timur yang rentang daerahnya di mulai dari 6 sampai 11 derajat Lintang Selatan (LS) dan antara 111 sampai 115 derajat Bujur timur (BT). Daerah ni terbentang mulai Pacitan sampai ujung timur dari Jawa Timur serta mulai Pulai Bawean sampai Lautan Indonesia.

Kekuatan gempa yang dicari adalah yang lebih besar dari 4,9 SR menurut skala BMG. Setelah penyeleksian data dilakukan, terakhir hanya tinggal 24 gempa yang tersisa yang bisa disajikan sebagai bahan Analisa mengenai kegempaan di Jawa Timur.

Kalau dilihat dari tahun terjadinya, ternyata kejadian gempa yang cukup besar terjadi antara tahun 1967 sampai 2003. Dari 24 data tersebut, jika diuraikan menurut tahun terjadinya gempa adalah seperti tabel 1 diatas.

Dari tabel di atas terlihat bahwa tahun 1994, mendominasi banyaknya gempa yang berskala besar. Ternyata dilihat dari posisi sumbernya, gempa ini masih dari posisi sumbernya, gempa ini masih di sekitar sumber dari gempa tsunami 3 Juni 1994 dan kejadiannya adalah setelah terjadinya tsunami. Boleh dikatakan bahwa gempa ini adalah aftershock (gempa susulan setelah gempa tsunami tersebut).

Dilihat dari posisi gempa, kebanyakan sumber gempa berada di lautan. Hanya beberapa saja yang sumbernya di darat. Gambar 1 di atas menunjukkan posisi dari sumber gempa.

Dari gambar di atas, terlihat bahwa hampir semua lokasi terjadinya gempa adalah di daerah bagian selatan Jawa Timur dan Samudera Indonesia. Lokasi darat daerah Jawa Timur yang paling selatan di sekitar kurang dari 9 derajat LS. Dengan demikian, sekitar 30 persen gempa bumi terjadi di darat dan sisanya terjadi di laut. Kalau dilihat periodik sitasnya, gempa bumi di Jawa Timur untuk suatu posisi tertentu berkisar 20 tahun -30 tahun.

Sebagai contoh, untuk gempa yang cukup besar yang terjadi di Malang Selatan, terakhir terjadi tahun 1998 dengan kekuatan 6,8 SR, yaitu pada lokasi 8,174 LS dan 112,445 BT. Posisi ini ternyata terletak di Malang Selatan, persisnya di daerah Sumber Manjing dan sekitarnya.

Pada masa sebelumnya, pada daerah sekitar daerah tersebut pernah terjadi gempa pada tahun 1972, yaitu pada 8,194 LS dan 112, 268 BT yang besarnya adalah 6 SR.

Di sebelah selatan Banyuwangi, tempat terjadi tsunami 1994, pada tahun 1967 juga pernah terjadi gempa pada kedalaman 88 kilometer yang posisinya adalah 9,130 LS dan 113,040 BT.

Dari dua hasil perhitungan ini, sekilas terlihat bahwa periodisitas untuk gempa yang dianggap besar di daerah Jawa Timur, adalah 20 tahun -30 Tahun.

Dari data juga terlihat bahwa antara Pacitan sampai Kediri sumber gempa 50 persen di darat dan 50 persen di laut. Antara Malang timur sampai Banyuwangi (113-114 BT), lokasi 30 persen di darat dan 70 persen di laut.

Jawa Timur relatif sering terjadi gempa bumi sehingga tenaga yang dikumpulkan oleh aktivitas patahan atau tumbukan tersebut dikeluarkan secara reguler.

Bukan berarti Jawa Timur bebas dari gempa penyebab tsunami. Namun, dari Analisa data yang tersedia di sini dapat diprediksi bahwa gempa yang bisa menyebabkan tsunami diperkirakan mempunyai periodisitas 20 tahun-30 tahun. Karena akhir-akhir ini periodisitas suatu gempa mempunyai kecenderungan maju, prediksi penulis gempa besar di daerah selatan Jawa Timur akan terjadi antara tahun 2010 dan 2020.

ADI SUSILO, PH.D

Dosen Geofisika, Dekan Fakultas MIPA

Diterbitkan oleh Kompas, Selasa, 25 Juli 2006

Categories: Uncategorized Tags:

Patahan, Manfaat dan Bencana

August 26th, 2018 No comments

Oleh : Adi Susilo

Akhir-akhir ini penduduk Indonesia disibukkan oleh bancana, baik gempa bumi, banjir, tsunami, maupun yang berasal dari eksplorasi minyak bumi, seperti semburan lumpur panas dan gas. Ada yang mulai arif dan berintrospeksi diri bahwa segala bencana tersebut bias jadi akibat ulah manusia, terutama banjir dan tanah longsor. Ada pula masyarakat yang memandang bencana tersebut dari kacamata metafisika/mistis.

da penyebab bencana yang sebetulnya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Contohnya adalah patahan atau sesar (fault). Cara paling sederhana melihat patahan di permukaan bumi adalah ada suatu daerah tinggi dengan lapisan atau jenis batuan penyusun tertentu kemudian disebelahnya ada jurang yang permukaan lembahnya tersusun dari jenis batuan berbeda. Bias disimpulkan di daerah tersebut telah terjadi patahan. Demikian juga jika tebing salah satu sungai tersusun oleh pelapisan batuan yang ketinggiannya berbeda dengan sisi satunya, hal itu menunjukkan indikasi patahan pada sungai itu.

Dibawah permukaan, patahan bias diprediksi melalui kenampakan di permukaan bumi, kemudian dibuat kemungkinan pola lapisannya ke arah dalam. Adapun untuk bagian yang lebih dalam digunakan pengukuran dengan seismik pantul atau refleksi.

Patahan, baik yang terjadi di bawah permukaan maupun dibawah bumi yang cukup dalam, mempunyai banyak manfaat. Manfaat itu di antaranya terjadinya jebakan atau daerah tempat terakumulasinya minyak bumi. Akubat tertutup patahan, minyak bumi tidak bias mengalir ke tempat dengan tekanan lebih rendah. Jebakan bias ditemukan lewat eksplorasi dengan cara seismik. Salah satu daerah yang terkenal dengan jebakan seperti ini adalah daerah Kutai, Kalimantan.

Hal lain, banyak eksploitasi pertambangan menjadi mudah karena adanya patahan. Bila di suatu daerah terdapat tambang batu bara dan di salah satu sisi terjadi patahan, pola lapisan batu bara akan semakin terlihat. Tambang batu bara seperti ini ada di Australia.

Patahan juga sangat bermanfaat untuk bidang pertanian, terutama di pegunungan kapur selatan. Misalnya, di Kecamatan Besuki, Campurdarat , atau Pakel dan sekitarnya. Kemudian di tulungagung terlihat hamparan sawah atau lading luas yang dibatasi bukit kapur. Hamparan sawah itu dahulu merupakan pegunungan kapur. Akibat patahan, bagian atas dar blok yang turun mengalami proses sedimentasi sehingga permukaan tanah bida dijadikan sawah. Hal serupa terjadi di perladangan di Malang selatan.

Sering kali di suatu tebing mengucur mata air maupun air terjun. Hal ini juga disebabkan oleh patahan. Dalam hal ini patahan bias menjadi berkah sumber air dan obyek wisata.

Oleh karena itu, patahan ataupun sesar di suatu daerah perlu disikapi denga arif. Memang betul, patahan merupakan salah satu sumber gempa bumi tektonik. Namun, masyarakat Indonesia tidak bias menolak atau menghindarinya. Untuk itu perlu dilakukan usaha memetakan arah patahan dengan lebih teliti, khususnya di suatu daerah yang ada indikasi patahan (bisa dilihat di peta geologi). Pemetaan ini bermanfaat untuk memberi saran ke penduduk, swasta, ataupun pemerintah jika mereka hendak membangun perumahan atau gedung. Bangunan hendaknya tidak memotong atau dibangun diatas jalur patahan. Dengan demikian, kalau terjadi gempa, akibatnya tidak parah.

Desain bangunan di sekitar jalur patahan perlu diperhitungkan untuk mengantisipasi aktifnya patahan, yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan gempa. Ini, misalnya, bangunan didesain untuk tahan goncangan dan dibuat dari bahan yang ringan.

Walaupun merupakan salah satu sumber bancana yang perlu diwaspadai, patahan di bumi banyak manfaatnya. Tanpa adanya patahan, kenampakan atau morfologi daratan di Indonesia, khususnya Jatim, tidak akan seperti sekarang. Tanpa adanya patahan, lading pertanian dan tempat rekreasi tidak akan seperti sekarang.

ADI SUSILO

Dosen Geofisika, Dekan Fakultas MIPA Universitas Brawijaya

Diterbitkan oleh Kompas, 28 Agustus 2006

 

Categories: Uncategorized Tags:

Hello world!

July 25th, 2012 1 comment

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku

Categories: Uncategorized Tags: