Home > Uncategorized > Memahami Gempa Bumi Di Jawa Timur

Memahami Gempa Bumi Di Jawa Timur

Oleh : Adi Susilo

Setelah terjadi dua gempa besar berturut-turut yang merusak Sumatera Barat dan Jambi, masyarakat disibukkan oleh adanya isu – isu gempa lagi. Bahkan, isu-isu itu mengarah pada waktu dan posisi terjadinya gempa. Seperti telah banyak diulas, sampai saat ini belum ada ilmu yang mengatakan atay memprediksi waktu pasti terjadinya gempa. Apalagi posisi pasti, itu masih jauh dari ilmu yang dimiliki manusia saat ini.

Masyarakat Jatim beberapa hari terakhir sering menerima oesan singkat (SMS) ataupun pemberitaan lain yang mengatakan akan terjadi gempa pada jam tertentu. Beberapa sekolah bahkan memulangkan murid-muridnya dan banyak orang tua berjaga sampai larut malam menanti datangnya gempa. Pertanyaan di kantor BMKG yang mencatat rekaman gempa terus terjadi, memastikan apakah memang benar akan terjadi gempa.

Secara umum gempa bumi diakibatkan oleh dua sumber, yaitu vulkanik dan tektonik. Gempa bumi vulkanik diakibatkan letusan gunung api, sedangkan sumber gempa vulkanik juga ada dua macam: shock dan tremor. Shock merupakan sumber gempa akibat letusan, yang bias berasal dari dalam dapur magma atau terlontarnya magma keluar dari tubuh gunung. Sumber seperti ini bias dikatakan sumber berbentuk titik.

Tremor adalah suatu getaran yang dicatat alat perekam (seismometer) di tubuh gunung karena proses merambatnya magma ke permukaan yang menggetarkan dinding-dinding saluran magma (conduit). Sumber semacam ini dikatakan sumber berupa garis. Gempa bumi vulkanik akan relative berbahaya terhadap masyarakat di sekitar gunung api, tetapi tidak untuk yang jauh.

Gempa bumi akibat proses tektonik juga dibedakan oleh dua sumber, pertama jalur penunjaman (subduction zone) yang berada sekitar 200 kilometer di sebelah selatan pulau jawa untuk daerah jawa. Gempa bumi akibat proses ini kebanyakan terjadi di laut sehingga bias tidaknya dirasakan manusia di daratan dan tergantung pada besar atau kecilnya energy yang dikeluarkan. Sumber kedua, patahan lokal dan regional yang bias terjadi dilaut dan di darat. Gempa bumi akibat patahan inilah yang justru berbahaya. Patahan yang tadinya tampak tidak aktif tiba-tiba bias aktif atau bisa juga sebetulnya patahan tersebut aktif tetapi kita tidak merasakannya karena pola pergeserannya dalam orde millimeter atau bahkan micrometer setiap tahun.

Memiliki Peta

Sejarah kegempaan yang tercatat dan pernah terjadi di Jatim di mulai oleh sebuah gempa besar yang terjadi pada 22 Maret 1836 di sekitar mojokerto dan Jombang, yang mengakibatkan kerusakan banyak bangunan dan korban jiwa. Gempa ini berkekuatan VII-VIII skala Mercalli (SM). Skala Mercalli adalah skala lain dari gempa yang di dasarkan kekuatan goyangan pada barang-barang di dalam rumah, yang mempunyai skala I sampai XII. Skala I, tidak ada orang yang merasakannya, skala VI, orang sudah kesulitan untuk berjalan dan barang-barang di dinding mulai berjatuhan. Skala XII, semua objek hancur.

Selanjutnya pada 15 Agustus 1896 terjadi gempa VII SM yang dirasakan di daerah Wlingi dan pada tanggal 20 Agustus 1896 gempa VII SM dirasakan di Tulungagung. Kedua gempa menimbulkan korban yang cukup banyak. Pada 31 Agustus 1915 terjadi gempa VIII SM di Madiun dengan korban bangunan dan manusia cukup banyak. Masih banyak gempa terjadi setelah itu.

Pada situasi posisi gempa telah diketahui secara lebih pasti, yaitu mulai tahun 1937, tercatat bahwa ada puluhan gempa besar telah terjadi di Jatim dengan skala di atas VI SM. Jatim bagian selatan, Banyuwangi , Pasuruan, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo, tercatat beberapa kali mengalami gempa besar. Di Jatim bagian utara, antara lin Gresik, Sedayu, dan Mojokerto, juga pernah terjadi gempa bumi besar walaupun frekuensinya kecil. Gempa bumi berskala lebih kecil terjadi ratusan kali di seluruh Jatim mulai periode 1950-an, termasuk di Madura, Selat Madura, dan wilayah tapal kuda.

Seperti telah juga sering di sosialisasikan, gempa bumi, khususnya tektonik, diakibatkan oleh terlepasnya energy dari patahan di suatu daerah. Kita justru seharusnya merasa senang apabila sering merasakan adanya gempa-gempa kecil, yang berarti tenaga akibat gesekan pada patahan tersebut telah di lepaskan. Hal yang justru patut di khawatirkan adalah kurang atau tidak adanya gempa-gempa kecil do daerah yang semestinya dan biasanya ada gempa. Ini berarti terjadi tumpukan energy yang lambat laun bertambah besar. Apabila tumpukan energy itu tidak bisa ditahan lagi oleh elastisitas batuan di daerah yang terdapat patahan tersebut, gempa bumi besar tinggal menunggu waktu.

Dari tulisan penulis yang dimuat di kompas 25 Juli 2006, sifat periodisitas dari gempa bumi di Jatim antara 20 tahun sampai 30 tahun. Tercatat pada 19 Pebruari 1967 terjadi gempa besar di sekitar dampit, Malang, berkekuatan VIII sampai IX Sm dan 6,2 Skala Richter (setara dengan 4 juta ton TNT, senjata nuklir kecil hanyalan setara dengan 1.000 ton TNT) dengan korban bangunan dan jiwa cukup banyak. Pada 28 september 1998 juga terjadi gempa cukup besar di daerah Malang dan Blitar selatan. Maka, masyarakat Jatim memang patut untuk waspada.

Terdapat suatu metode yang sekiranya perlu dilakukan pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi ataupun akademisi yang memahami masalah ini. Pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota sudah waktunya meneliti dan memiliki peta micro zonation, khususnya patahan di suatu daerah yang kemungkinan akan digunakan sebagai tempat tinggal dan prasarana lain. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi resiko bencana yang mungkin akan terjadi, baik akibat gempa bumi ataupun longsor. Dengan telah diketahuinya alur patahan tersebut, pemerintah bisa mengeluarkan dan menolak izin untuk suatu aktivitas. Dengan telah adanya rambu-rambu tersebut, tanggung jawab pemerintah semakin berkurang.

 

Adi Susilo

Koordinator Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya Malang.

Categories: Uncategorized Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CAPTCHA Image
*